Lahan tersebut memiliki luas sekitar 1 hektare dan menjadi salah satu potensi yang dikembangkan dalam mendukung pelaksanaan program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
LHOKSEUMAWE – Upaya memperkuat ketahanan pangan terus dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lhokseumawe melalui optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian yang tersedia di lingkungan lapas.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Lapas Lhokseumawe dalam mengembangkan kegiatan produktif sekaligus memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal dan berkelanjutan.
Pada Jumat (28/8/2026), Kepala Subseksi Sarana Kerja Lapas Lhokseumawe, Muhammad Isa, bersama sejumlah peserta magang melakukan pengawasan langsung terhadap lahan sawah yang berada di bagian belakang Lapas Lhokseumawe.
Lahan tersebut memiliki luas sekitar 1 hektare dan menjadi salah satu potensi yang dikembangkan dalam mendukung pelaksanaan program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan.
Pengawasan Berkala untuk Menjaga Produktivitas Lahan
Dalam kegiatan tersebut, Muhammad Isa bersama peserta magang melakukan pemantauan terhadap kondisi lahan sekaligus melihat perkembangan pengelolaannya. Pengawasan dilakukan secara berkala untuk memastikan lahan tetap terawat, produktif, dan dapat dimanfaatkan sesuai dengan perencanaan program.
Pemantauan secara langsung juga menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai kendala yang berpotensi menghambat pengelolaan lahan dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Kalapas Lhokseumawe, Irhamuddin, melalui Kepala Subseksi Sarana Kerja, Muhammad Isa, menyampaikan bahwa pengawasan dan perawatan dilakukan secara berkelanjutan agar potensi lahan dapat memberikan hasil yang maksimal.
“Kami terus melakukan pengawasan dan perawatan secara berkala agar lahan ini dapat dimanfaatkan secara optimal. Harapannya, program ketahanan pangan ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan hasil yang bermanfaat,” ujar Muhammad Isa.
Menurutnya, konsistensi dalam melakukan perawatan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program pertanian. Pemanfaatan lahan tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut dapat dikelola secara terencana dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Sarana Produktif sekaligus Media Pembelajaran
Pemanfaatan lahan pertanian di lingkungan Lapas Lhokseumawe tidak hanya diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari optimalisasi aset dan sumber daya yang tersedia agar dapat menghasilkan kegiatan produktif.
Keterlibatan peserta magang dalam kegiatan pengawasan turut memberikan pengalaman praktis mengenai pengelolaan lahan pertanian. Hal ini dapat menjadi sarana pembelajaran mengenai pentingnya perencanaan, perawatan, pengawasan, serta evaluasi dalam mengelola sebuah kegiatan produktif.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa lingkungan pemasyarakatan dapat dikembangkan tidak hanya sebagai tempat pelaksanaan pembinaan, tetapi juga sebagai ruang yang mendorong keterampilan, produktivitas, dan kemandirian.
Ketahanan Pangan Membutuhkan Konsistensi dan Tata Kelola
Program ketahanan pangan pada dasarnya tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan lahan. Keberhasilannya membutuhkan perencanaan yang matang, pengelolaan yang baik, pengawasan berkelanjutan, sumber daya manusia yang kompeten, serta evaluasi terhadap hasil yang dicapai.
Optimalisasi lahan sekitar 1 hektare di Lapas Lhokseumawe menjadi contoh bahwa lahan yang tersedia dapat diarahkan menjadi sumber daya produktif apabila dikelola secara konsisten.
Dalam perspektif kepentingan publik, pengelolaan sumber daya seperti lahan pertanian juga penting dilakukan dengan prinsip efisiensi, transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Setiap program yang menggunakan sumber daya negara maupun fasilitas pemerintah seyogianya memiliki tujuan yang jelas, memberikan manfaat nyata, dan dapat dipertanggungjawabkan.
KPK Independen: Ketahanan Pangan Harus Berorientasi pada Manfaat Nyata
Media Center KONTROL PUBLIK KEBIJAKAN INDEPENDEN (KPK Independen) memandang optimalisasi lahan pertanian di lingkungan pemasyarakatan sebagai langkah positif yang patut dikembangkan secara berkelanjutan.
Program semacam ini dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya produktif sekaligus memberikan nilai tambah terhadap pemanfaatan lahan yang tersedia. Namun, keberlanjutan program harus menjadi perhatian utama agar kegiatan tidak berhenti pada tahap seremonial atau hanya menghasilkan kegiatan jangka pendek.
KPK Independen mendorong agar program ketahanan pangan di lingkungan pemasyarakatan terus diperkuat melalui perencanaan yang terukur, pendampingan teknis, pengawasan berkala, pencatatan hasil produksi, serta evaluasi secara transparan.
Selain itu, apabila program berkembang dan menghasilkan produksi pangan, aspek distribusi dan pemanfaatannya juga perlu dikelola secara jelas sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara optimal dan tidak menimbulkan persoalan baru dalam tata kelola.
Bagi masyarakat, ketahanan pangan merupakan persoalan strategis yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pemasyarakatan, dunia pendidikan, kelompok masyarakat, dan sektor lainnya dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Dengan demikian, pemanfaatan lahan pertanian di Lapas Lhokseumawe diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan produktif di lingkungan pemasyarakatan, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas dalam membangun kemandirian, ketahanan pangan, keterampilan, dan pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.
Lapas Lhokseumawe berkomitmen untuk terus mengembangkan program ketahanan pangan melalui pengelolaan lahan secara terarah, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung terciptanya kegiatan positif di lingkungan pemasyarakatan.
Himbauan Edukatif kepada Masyarakat
Ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting melalui pemanfaatan lahan yang tersedia, pengembangan pertanian produktif, pengurangan pemborosan pangan, serta dukungan terhadap produk pangan lokal.
Setiap jengkal lahan yang dikelola secara produktif dapat menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan. Karena itu, mari mengubah lahan yang tersedia menjadi sumber manfaat, menjaga keberlanjutan lingkungan, dan membangun kemandirian pangan bersama.
Penulis : ZAINAL
Kategori : Publikasi Ilmiah dan Edukasi Publik
Kontak : Media Center KONTROL PUBLIK KEBIJAKAN INDEPENDEN
Email : kpkimedia@gmail.com
